Gambar
 Moving post dari Quora. Hai semuanya,saya Eky dan jika anda mengenal saya dari Quora maka itu benar sekali, saya memang penulis yang biasa anda temui disana. Mengingat sekarang Quora sudah berbeda dan (jujur saja) tidak ada manfaat monetasi dari mereka (sebenarnya ada tapi sangat amat kecil) sehingga saya memutuskan untuk memindahkan beberapa jawaban dari Quora ke blog ini, memang saya tidak terlalu berharap AdSense cuma setidaknya disini jawaban saya lebih aman dan bisa dibaca semua orang. Akan ada banyak jawaban yang saya ambil dari laman Quora pribadi dan perlahan semua akan saya rapikan sesuai topik dan temanya, untuk sekarang saya mohon maaf jika penampilan blog ini berantakan, semua sedang dalam progress pembetulan dan perlahan saya rapikan agar lebih enak dilihat. Terimakasih kawan Quora semua yang sudah mendukung blog ini, dan untuk mereka yang baru baca saya ucapkan selamat datang disini.

Mengapa orang kaya sering menutup diri dari masyarakat dan jarang bersosialisasi dengan warga sekitar, terlebih-lebih keturunan Tionghoa?

Orang menengah kebawah itu terkadang susah menghargai barang dan konsep uangnya berbeda.


Rumah saya dulu di salah satu daerah elit Malang cuma belakangnya perkampungan sehingga saya kenal banyak anak kampung + posisi saya bukan sebagai anak orang sangat kaya tapi hanya kelas menengah sehingga mereka bisa dengan santai main kerumah, kebetulan saja rumahnya besar dan Mama kerjanya PNS.

Pas saya kecil sering anak kampung belakang main kerumah, nah mereka sering mencuri mainan dirumah (saya dulu punya banyak sekali mainan, mungkin seminggu sekali pasti beli mobil-mobilan atau Tamiya) tapi karena saya punya banyak biasanya saya biarkan saja, cuma lama lama menyebalkan juga mengingat banyaknya mainan yang hilang sehingga saya enggan bermain sama mereka.

Kalau ada yang mau pinjam mainan dirumah biasanya kembali dengan keadaan rusak atau tidak lengkap, minimal selaiu ada saja masalah atau kerusakan sehingga saya enggan meminjamkan mereka lagi.

Pas saya beranjak dewasa juga sama, teman yang dari kalangan bawah biasanya suka mencuri kunci dirumah (jaman itu kunci saya paling jelek merek Tekiro dan lengkap) otomatis saya lama kelamaan menutup diri karena khawatir barang saya diambil, ya sebenarnya bisa saja sih minta Mama atau menabung buat beli tapi kan ya males karena barangnya diambil orang lain, buang uang namanya.



Disisi lain saat SMP dan masih suka beli airsoft saya pernah berkenalan dengan anak Chinese seumuran, sebut saja namanya Michael, kita berkenalan di toko airsoft saat sama sama beli dan kami langsung akrab.

Michael sendiri bisa dibilang sekelas dengan saya, rumahnya di daerah Tidar dengan background keluarga hampir sama, setiap bulan kita bisa membeli airsoft dari hasil tabungan uang saku hanya saja saya lebih sering beli unit mahal karena disambi jual beli airsoft bekas, kadang jika unit saya terlihat menarik Michael sering pinjam untuk dibuat mainan dengan adiknya dirumah.



Unit airsoft saya jenis laras panjang biasanya disimpan didalam gunbag seperti diatas, saat itu saya punya 5 gunbag sehingga jika Michael pinjam saya berikan sekalian gunbagnya, unit yang dia bawa tidak pernah rusak atau baret sekalipun, kadang jika dikembalikan ada isi coklat atau kue dari Michael sekedar tanda terima kasih atau setidaknya kembali dalam keadaan lebih bersih daripada sebelumnya.



Masalahnya disana, seperti yang dijelaskan gambar diatas pola pikir terhadap barang dan uang orang menengah keatas dan kebawah itu sudah berbeda dan tidak ada hubungannya dengan ras, orang Jawa kaya juga pastinya akan menutup diri jika dalam lingkungannya ada orang atau golongan yang tidak sama pemikirannya dengan dia.

Orang menengah kebawah selalu dalam survival mode, kalau dia tidak kerja = tidak makan, jelas konsepnya tidak sama dengan kaum menengah keatas yang pemikirannya sudah berbeda dan untuk kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi sehingga bisa melakukan aktualisasi diri seperti diagram Maslow, orang demikian jelas enggan bergabung dengan orang yang masih di bagian bawah atau posisinya mencari makan setiap hari karena pola pikirnya tidak akan sama.



Tidak ada hubungannya dengan ras, orang kaya jelas tidak akan "ketemu" jika berkumpul dengan orang menengah kebawah karena yang dibicarakan sudah berbeda, satunya masih berfikir besok makan apa sementara satunya berbicara bisnis dengan omzet ratusan juta, kan beda pola pikir.

Kalau dipaksakan nanti ada yang iri akhirnya seperti anak kampung rumah saya yang mencuri, andai cuma mencuri tidak masalah tapi kalau sampai membunuh kan susah, makannya kebanyakan orang kaya "cari aman" dengan tidak bergaul dengan banyak orang, tapi mereka sekali membuka diri dengan seseorang sangat enak dan loyal mengingat mereka tidak perlu uang tapi kesetiaan, sesuatu yang orang menengah kebawah agak susah.

Intinya disana, bukan karena ras atau bagaimana.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vios Limo dengan anggaran cekak, layak beli atau tidak?